Teater di Zaman Tipografis
14 comments so far
I
Duduk menonton televisi memang berbeda dengan membaca novel, cerita pendek, sajak, atau bahkan menyaksikan pementasan teater. Aktivitas membaca senantiasa mengandaikan suatu konsetrasi yang lebih soliter dan personal sementara tindakan menonton televisi lebih mirip dengan upaya untuk memasuki suatu kosmos rekaan dalam keserempakannya. Membaca adalah kegiatan yang lebih literer sedangkan menonton merupakan kegiatan tipografis-visual. Dan dalam tindakan literer (membaca dan menulis) lebih memungkinkan orang untuk menelusuri bagian-bagian teks secara menetap.
Aktivitas literer lebih memungkinkan orang untuk mengusut bagian-bagian teks dalam bentuknya yang fiks sehingga lebih mudah untuk menjelajahi relung-relung yang bertautan dengan unsur-unsur pembangun koherensinya. Pembaca dapat mengulangi bagian-bagian tertentu sembari menggaris bawahin, mengecek korelasinya dengan bagian yang lain, bahkan juga dapat menguji berbagai kontradiksi yang muncul. Suatu naskah esai, cerpen, novel atau puisi dapat dibaca berulang-ulang untuk dipilah, diberi catatan, komentar, kritik, sanggahan, ditambahi aforisme baru, bahkan kalau perlu diciptakan teks lain yang bersifat alegoris di sela-sela teks utama. Gagasan, referensi, kejelasan atau kekaburan pernyataan dan sebagainya dapat diuji ulang dalam bentuk catatan yang juga fiks.
Hal semacam itu agak sukar dilakukan ketika orang menonton televisi. Orang memang dapat menonton film dalam bentuk video, VCD atau DVD, namun dalam bentuknya yang ekstrem aktivitas menonton sering kali menyingkirkan kebutuhan dan kesempatan untuk mengusut koherensi bagian-bagian atau elemen-elemen yang terdapat dalam teks visual. Iklan di televisi (sebagai contoh teks visual) sering datang dan pergi dengan cepat sehingga kadang tampak sebagai kolase yang membentuk sejenis timbunan teks. Di dalam teks visual tersebut kadang juga tidak terdapat kaitan logis di antara elemen-elemennya sehingga menjadi semacam serakan kain perca, tanpa ujung tanpa pangkal, tanpa bingkai. Video klip, iklan sabun, iklan rokok dan bedak kecantikan datang seperti semburan-semburan acak dan penonton tiba-tiba dibawa masuk dalam pusaran ekstase visual. Dalam tindakan visual semacam itu secara langsung maupun tidak langsung akan menyebabkan penonton tidak peduli lagi dengan logika dan koherensi karena yang dicari adalah sejenis kenikmatan visual dari sesuatu yang acak, tak berpola, dari kilasan-kilasan imaji, sabetan-sabetan impresi.
Neil Postman, seorang kritikus budaya massa, menyebut gejala tersebut sebagai gelombang pasang ingar-bingar dunia tipografis di mana salah satu implikasinya adalah menguatnya semacam sikap yang cenderung tidak hirau terhadap kepaduan dan koherensi teks. Yang dicari adalah justru keterpecahan, ketercerai-beraian, fragmentasi, segregasi, benturan-benturan acak, semacam histeria yang telah melahirkan sikap emoh terhadap struktur dan akhirnya juga sikap tidak peduli terhadap kedalaman substansial dari sesuatu yang dilihat. Kemabukan tipografis itu pada akhirnya telah memorak porandakan kebutuhan orang terhadap kepaduan teks sebagaimana yang berlangsung dalam logika lirerer. Citra yang berpilin dengan citra, gambar yang tumpah dalam buncahan dan serpihan gambar, cukuplah diterima sebagai empasan sensasi yang menyentuh indera penglihatan dan oleh karenanya tak perlu diusut hal ihwal substansial di baliknya dan tidak penting benar apakah di dalamnya mengandung makna atau hanya sekadar nonsens.
Tentu, teks literer adalah teks yang tercetak, baik tulisan maupun gambar dan tindakan literer adalah kegiatan berkomunikasi yang membutuhkan intensitas. Ketika menghadapi selarik kalimat, sebuah paragraf, sebuah berita atau artikel, pada dasarnya kita sedang berhadapan dengan proposisi (pernyataan). Asumsinya: menghadapi teks tertulis berarti sedang menghadapi suatu bentuk penalaran tertentu. Hal ini berbeda dengan media audio atau audio-visual yang membutuhkan pemahaman dalam waktu singkat dan serempak dan sering tak dapat diulangi lagi. Jika kita berhadapan dengan televisi akan sangat sukar merunut tahap per tahap dari pesan yang disampaikan karena sebelum semuanya tertangkap dengan baik, pernyataan yang lain sudah menyusul dengan cepat sehingga kemudian yang tertangkap adalah rangkaian pernyataan atau tampilan yang bertumpuk-tumpuk dan kadang sukar ditemukan batas-batas dan konteksnya.
Salah satu teks visual yang kini membajiri ruang kesadaran kita adalah iklan di televisi. Tapi jika ditengok sejarah pertumbuhan awal dunia iklan (massal) di Amerika ataupun di Eropa, pada mulanya selalu bersifat literer. Menurut Celia Lury, seorang teoritikus budaya massa, dalam bukunya Budaya Konsumen, (1999;93) setidaknya ada empat tahap perkembangan iklan. Pertama (1890-1925), iklan yang berorientasi produk yang cenderung menggambarkan fungsi produk, harga, kualitasnya; menampilkan kenyataan obyektif dalam penjelasan yang akurat, informatif, gamblang dan koheren.
Kedua, (1925-1945), iklan yang mulai masuk ke simbol-simbol produk. Pada periode ini terdapat pergeseran fokus periklanan dari gambaran tentang produk itu untuk konsumen. Produk ditampilkan dalam makna kegunaannya bagi individu. Iklan mulai menggali aspek-aspek manfaat non praktis. Yang lebih ditekankan adalah makna produk bagi si pemakai. Periode ini juga ditandai dengan lebih kuatnya peran bahasa visual. Di sini mulai terjadi apa yang disebut sebagai proses estetisasi, yakni suatu upaya bagaimana membuat cara penyampaian menjadi estetis agar menimbulkan makna individual bagi si pemakai produk.
Ketiga, (1945-1965), pendekatan yang dipakai mulai memasuki apa yang disebut proses personalisasi. Pada periode ini iklan tidak terlalu banyak menampilkan manfaat atau makna simboliknya. Fokus utamanya adalah motivasi kenapa barang produksi dipakai, termasuk hasrat akan pengakuan sosial, kebanggaan memiliki. Citra visual secara bertahap mencapai kemandirian, tak terjelaskan dan tak tergantikan oleh citra tertulis (literer). Teks tertulis ditampilkan dengan ringkas, akrab, bahkan kadang puitis.
Tahap keempat, (1965-1985), pendekatan segmentasi pasar. Periode ini ditandai oleh penampilan iklan-iklan gaya hidup dan segmentasi atau jenis-jenis konsumen yang sangat heterogen. Fokus iklan bergeser ke arah pencarian identitas. Iklan menjadi sangat imajinatif, liar, bahkan memiliki gagasan-gagasan yang gila dan unik, bahkan tidak masuk akal. Iklan-iklan menjadi tempat untuk mengumbar fantasi sejauh-jauhnya. Di sini produk menjadi tidak penting lagi. Yang diperlukan adalah kenikmatan imajinasi. Iklan menjadi dunia yang fantastis.
Pada tahap ketiga dan keempat tersebut jelas bahwa paradigma literer nyaris tergusur oleh paradigma tipografis. Tentu, itu semua berkat televisi. Televisi adalah rasul bagi zaman visual. Dan kini orang mafhum betapa saktinya televisi karena medium ini telah memasuki ruang-ruang paling privat kehidupan kita, di mana saja, kapan saja. Dan sesuatu yang hadir setiap saat secara terus menerus itu akhirnya akan membentuk suatu oksimoron yang tak tergoyahkan. Ia diam-diam menentukan “kebenaran” dalam menghadapi teks dan realitas yang direpresentasikan oleh teks. Bahkan ada yang berkata secara ekstrem bahwa ketika melakukan kegiatan visual semacam itu pada dasarnya kita tidak sedang menonton televisi melainkan televisi yang menonton kita. Televisi yang mendikte kita.
Perkawinan antara paradigma visual, medium televisi dan berondongan teks iklan tanpa henti tersebut merupakan penanda utama zaman ini. Yakni suatu zaman yang dipenuhi kilasan-kilasan sesaat, impresi-impresi singkat mengenai dunia. Orang yang bersikeras mencari kedalaman makna dan segala implikasi diskursifnya dalam dunia semacam itu akan menemui kesia-siaan atau sekurang-kurangnya menjadi makhluk yang terasing dari dunianya. Dalam dunia visual yang serba fragmentatif, instan dan dangkal itu mencari sesuatu yang substansial ibarat membangun rumah dari pasir yang setiap saat akan lenyap oleh empasan gelombang kesementaraan. Sesuatu yang substansial telah kehilangan dasar-dasar pijaknya.
II
Begitulah kira-kira keyakinan umat pengikut rasul televisi. Dan celakanya umat ini adalah mayoritas penghuni dunia, barangkali termasuk kita yang hidup di pelosok negeri yang boyak ini. Tapi rupanya tetap saja muncul orang-orang berkepala batu yang tidak takluk oleh dunia impersonal, yakni daya-daya yang terbentuk oleh sesuatu yang telah mapan dalam konfigurasi representasi atas realitas di bawah hegemoni rezim visual itu. Mereka adalah orang-orang yang berusaha mempertahankan kebermaknaan di tengah gempuran fragmentasi ketakbermaknaan dunia instan. Kaum seniman adalah bagian dari kelompok tersebut.
Khusus seni teater, lantaran format mediumnya yang berada di tengah-tengah antara format lirerer dan visual ia memiliki peluang yang paling besar untuk menghidupkan kebermaknaan. Ia tak takluk oleh rezim literer dan tipografis, tapi sekaligus tak mungkin lepas dari kedua hal tersebut. Ia dapat keluar masuk ke wilayah literer maupun wilayah tipografis. Dan jika melihat perkembangan teater (di dunia) lima puluh tahun terakhir serta teater di Indonesia dua puluh tahun terakhir maka segera tampak bahwa pengaruh paradigma tipografis cukup kentara. Setidaknya ada dua jurusan dalam menanggapi gelombang budaya tipografis tersebut.
Jurusan pertama adalah dengan menghambur pada pusaran tipografis sebagai medium permainan. Teater mulai menggeser (atau memperlebar) bobot kehadirannya dari sesuatu yang literer menuju sesuatu yang visual. Bobot kehadiran teater tidak melulu terletak pada kaidah-kaidah lama yang bertumpu pada struktur dialektik (melalui cerita dan karakter manusia) melainkan telah bergeser pada peristiwa, ruang, konfigurasi visual dan kelam. Pada saat yang sama teater juga mulai mengolah daya-daya impersonal sehingga manusia sebagai protagomis di atas panggung mulai surut digantikan oleh empat hal tersebut. Tapi harus segera ditambahkan bahwa hal ini bukan sekadar respon terhadap budaya tipografis melainkan kelanjutan dari goyahnya kepercayaan seni terhadap manusia sebagai subjek yang otonom.
Dalam sejarah seni hal itu muncul bersamaan dengan keretakan modernitas yang membiak bersamaan dengan kontradiksi dan antagonisme yang tak terselesaikan dalam upaya penemuan dunia yang memusat pada individualitas itu sendiri. Jauh sejak zaman klasik sudah tampak bahwa individualitas telah terbagi-bagi dalam berbagai bentuk kompartemen ilmu pengetahuan yang nyaris tak terdamaikan. Dan dalam zaman romantik keterpecahan itu coba diatasi dengan menempatkan subjek sebagai wahana untuk mentransendir dunia sementara pada zaman kejayaan kaum realis keutuhan subjek coba ditirunkan ke bumi pada kancah sosial tempat dimana eksistensi manusia dianggap menemukan pijakan paling kuat dan nyata.
Hingga kini upaya untuk mendamaikan potensi keterpecahan dan keutuhan manusia semacam itu tidak pernah usai. Setelah proyek-proyek besar tersebut kehilangan daya pukaunya maka seni kemudian justru lebih leluasa bergerak menerobos batas-batas antara keutuhan dan keterpecahan subjek. Modernitas yang semula melahirkan manusia sebagai subjek yang otonom kini justru mengalienasi dan bahkan menghancurkan subjek itu sendiri. Dan semenjak semenjak Perang Dunia II, manusia benar-benar telah ringsek berantakan. Jika sebelumnya orang masih percaya bahwa manusia dapat disusun secara utuh meski tetap didera oleh penderitaan, semenjak Perang Dunia II kepercayaan semacam itu nyaris menjadi mustahil. Manusia memang pada dasarnya menderita dan papa, tapi kini ditambah lagi dengan kemustahilan untuk merekonstruksi dan menemukannya dalam sosok yang utuh dan otonom.
Yang menarik, pada masa itu muncul filsafat eksistensialisme dari Sartre yang seolah hendak menyelamatkan manusia dengan mengangkat kembali keutuhan dan otonomi yang hancur oleh perang tersebut. Tapi tak lama kemudian muncul strukturalisme yang dengan dingin menguak dunia impersonal sebagai daya impersonal yang mengkonstruksi manusia. Bagi strukturalisme, subjek telah mati. Dan pascastrukturalisme kemudian menolak pembunuhan subjek secara ekstrem semacam itu yang kemudian dilanjutkan oleh pascamodernisme menghidupkan kembali subjek plural pada batas-batas tertentu.
Dibanding bidang seni yang lain teater adalah bidang seni yang paling kuat menampilkan proses goyahnya keutuhan manusia dan dunianya itu. Di jalur lain, sebelumnya kita sudah mengenal gerakan surrealisme orang-orang seperti Andre Breton maupun penjelajahan sampai ujung batas ketidak mungkinan dari tubuh yang dilakukan oleh Artaud. Lalu kita kenal orang-orang Jerman yang menggali paranoia akibat dislokasi dan disorientasi akut yang disebabkan oleh dunia mesin dan monster-monster hitamnya. Di kemudian hari orang indonesia menemukan Teater SAE, Teater Kubur, Teater Payung Hitam yang mengusung mesin dan monster ke atas panggung: bahwa dunia yang kita huni adalah ruang yang sangat berbahaya.
Mereka tidak sekadar menggambarkan dunia yang berbahaya itu ke dalam rasa sakit dan kecemasan secara definitif melainkan mengusung potongan-potongannya ke atas pentas. Kadang mereka menggedor-entakkan palu hitam secara brutal hingga penonton terhajar rasa mual, terkepung rasa cemas yang berkerumuk di setiap sudut kelam panggung pertunjukan. Segalanya berderak, berpusar lalu runtuh ke dasar kekosongan. Pada saat yang sama hampir semua penyair muda Indonesia juga berbicara gemetaran dengan mulut dipenuhi kosa kata seperti kekosongan, kenyerian, ngilu, air mata, perih, darah, dentuman, mayat, terminal, jalan raya, kecemasan, pembantaian, etalase, luka, jantung, pecah, sayat, serpih, remuk, ringsek, gemuruh, badai, mesin, beton, pisau, dan sebagainya dan sebagainya.
Dan sekali lagi, mereka berbicara ihwal ringseknya manusia utuh itu tidak dengan cara yang benar-benar literer melainkan dengan peristiwa, ruang, dunia visual dan kelam. Di dalam bobot kehadirannya yang baru itu makna pun juga tidak dapat dikonstitusikan pada dunia yang utuh pula. Manusia yang ringsek hanya bergerak ke sana sini di tengah dunia yang berantakan pula. Itulah teater. Dan lantaran tak ada lagi keutuhan maka menjadi lebih mungkin mengaduk-aduk absurditas, kontradisksi, paradoks, bukti-bukti empiris hilangnya dasar-dasar avidensi manusia, hamburan mesin simulacrum pada budaya massa, dan berbagai kebrutalan dunia impersonal akibat politik, kapitalisme, fundamentalisme agama, anarki dan omong kosong sekaligus di dalamnya.
Teater jenis ini menjadi sejenis eulogi kelam dan tanpa akhir mengenai sisa-sisa jejak yang dapat dikumpulkan dari serpihan pasca-eksistensi manusia itu sendiri. Ia adalah sejenis identifikasi yang keras tanpa perlu mancari makna di baliknya karena manusia hanya dapat diraba dan direka-reka sebagai sebentuk kolase yang tidak jelas batas-batasnya kecuali jika semuanya telah takluk kepada kekuatan impersonal yang kian mudah menjelma kekerasan demi kekerasan itu. Di situ dunia menjadi sejenis serpihan tajam dan saling melukai yang tak memiliki konteks serta dapat disusun dengan ringkas dan nyata. Peristiwa adalah peristiwa. Tak perlu dicari asal muasal sejarah maupun biografi sosialnya, juga tak perlu berlarat-larat dengan duka dan perih bagi yang terlibat karena yang tersedia cuma kesementaraan dalam momen-momen parsial yang segera lenyap. Itulah sebagian dari teror yang diwujudkan oleh teater sebagai teater. Teater sebagai serpihan peristiwa dan bukannya teater sebagai representasi dari peristiwa.
Jurusan kedua, dengan mempertahankan yang literer agar tidak tergerus habis oleh yang tipografis. Teater jenis ini biasanya cukup setia dengan naskah tertulis sehingga pementasannya merupakan bagian dari tindakan literer dalam arti mengajak para penonton untuk kembali pada ruang soliternya. Di tengah banjir fragmen visual yang dangkal teater mencoba menyeret orang untuk berusaha keras menciptakan ruang-ruang refleksi hingga menyentuh ceruk-ceruk terdalam makna kemanusiaan yang mungkin dipertahankan. Dan di Eropa ihwal alienasi yang mengancam makna kemanusiaan itu tetap menjadi tema yang tak habis diolah.
Naskah An Ordinary Day karya Dario Fo ini adalah suatu teks lirerer yang berusaha mengenali kembali kesunyian jiwa-jiwa rombeng semacam itu. Banyak naskah teater yang sengaja ditulis dengan dialog yang pelik dan panjang. Semua itu bertujuan agar orang yang telanjur terbiasa dengan empasan sensasi dunia tipografis yang instan dan dangkal itu dapat melatih kembali kemampuan refleksi sampai ujung terjauh ruang jiwanya. Menghadapi naskah semacam ini orang harus awas agar tidak kehilangan bagian-bagian makna yang terkandung di dalamnya. Orang tidak dapat menghadapi pementasan ini seperti menonton iklan di televisi melainkan lebih dekat pada kegiatan membaca yang membutuhkan konsentrasi penuh.
Penyair TS Eliot pernah mengatakan bahwa terlalu banyak daya-daya impersonal. Maka pada saat-saat tertentu manusia perlu menghidupkan kembali daya-daya reflektif yang ada pada dirinya agar tidak ludes oleh daya-daya luaran itu. Salah satu caranya adalah dengan melatih kembali daya-daya literer. Ini bukan pekerjaan mudah. Para aktor yang mementaskan naskah semacam berarti sedang melatih kemampuan dan stamina untuk memainkan sesuatu yang dalam, rinci, dan intens. Sementara penonton dituntut melatih kemampuan menyimak yang kadang sangat melelahkan.
Apa boleh buat, jika hal itu gagal berarti itu bukti bahwa aktor maupun penonton telah gagal pula melepaskan diri dari ingar-bingar ekstase dunia tipografis yang memabukkan itu. Naskah ini adalah sebuah wahana yang bagus untuk mengetes apakah kita makhluk yang sudah takluk oleh kedangkalan dunia tipografis atau tidak. ***
Friday, April 25th, 2008 at 5:03 pm and is filed under TEATER. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
nah gitu dong diiiii ngeblog. biar lebih greng.
Mas Adi menonton pertunjukan ”An Ordinary Day” yang dimainkan kelompok teater Behind The Actor’s Bandung dengan sutaradara Asep Budiman?
halo yahuud!
maknyak: baru mulai ngeblog nih…
sireum: aku nonton di Bandung waktu itu, di CCF, juga ikut dalam diskusinya, sekaligus jadi narasumber bersama beny johanes gitu…
Bung Adi, saya dan temanteman mau mendiskusikan tulisan2 bung adi wicaksono. Kami butuh sekali sumbangan tulisan2 bung adi mengenai seni rupa Indonesia: debat dengan sukadana itu, trus tulisan2 setelah seni rupa di di belakang tengkuk. Terimakasih ya…dan ini penting sekali Bung, tentu juga bung tahu bagaimana buruknya perpustakaan kita.
ya syukurlah
sarastia: saya juga bingung, karena tidak pegang lagi tulisan-tulisan itu. jadi memang dokumentasi saya sangat buruk, akibat saya berpindah2 tempat tinggal, banyak dokumen yang tercecer dan raib…gimana ya?
Sarastia: Sungguh sayang, banyak sekali tulisan saya yang sudah hilang dan sudah tidak diketahui keberadaannya. Salah satu sebabnya karena saya berpindah-pindah tempat tinggal. Maka, saya pun juga bingung jika ditanya mengenai tulisan-tulisan itu. Maafkan saya…
mas adi, kalo kita ada waktu santai yuk kita digitalisasi tulisan2mu. kebetulan aku punya aplikasi dokumen manajemen digital. kan bisa kita manfaatkan ketimbang terkubur dihardiskku.
Salam sastra buat Bung Adi dari Kelompok Studi Sastra Banjarbaru Kalsel. Wah saya tak bisa ngomong tentang teater, pasalnya teater di Kalsel mengalami masa suram.
mbok kowe dadi dosen wae to, Di… paper-mu wis dawa-dawa ngono, kok
Di…nulis maneh to, kritik seni, sing tenanan tapi…ok?
Saiki, ora ono kritikus seni rupa lho…ayo gih Di?
sayang, telah kubunuh teater dalam diriku sebagai persembahan cinta. Lebih sayangnya lagi, aku tidak menyesalinya…
Salam asbunologi.