Potret Sunyi Sang Juru Foto
2 comments so far
Cukup lama tidak muncul film Indonesia yang enak ditonton, tapi berisi dan memiliki kedalaman. Film The Photograph karya Nan Achnas yang sedang diputar di beberapa bioskop hari-hari ini telah mengisi kekosongan itu.
Bobot film ini sudah tampak dari sederet grant yang dimenangi selama proses pengembangan skenario maupun produksinya: Prince Claus Fund (Cinemart), Göteborg Film Fund, Fond Sud (Perancis), Swiss Fund at Open Doors Locarno Film Festival, dan Les Petites Lumières (Perancis).
Film ini mengangkat kisah seorang juru foto keliling, Johan (50), lelaki Tionghoa yang sangat tertutup dan oleh para tetangganya dianggap sosok aneh dan agak “misterius”. Ia terbenam di sudutnya yang pengap di bawah bayang-bayang labirin masa lalunya yang jauh, muram, dan pelik. Tak seorang pun tahu siapa dan bagaimana lelaki ini menempuh sunyinya sendiri, melangkah menuju ajal.
Lalu, datang seorang perempuan bernama Sita (25), mengontrak sebuah kamar yang jorok dan penuh kepinding di rumah Johan. Mudah ditebak: Sita adalah perempuan urban yang terjebak runyamnya kehidupan kota sehingga harus menjadi pekerja seks dan penyanyi karaoke serta terlilit utang pada seorang germo. Sita harus melakukan apa saja untuk mencari uang guna menghidupi anaknya yang ditinggal di kampung bersama neneknya yang sakit-sakitan. Tentu, Sita juga harus mengalami kekerasan fisik yang lazim, termasuk diperkosa beberapa lelaki yang mengencaninya.
Klasik
Oke. Sita adalah karakter klasik dalam film Indonesia. Dan, karakter semacam ini memang mudah membangkitkan iba penonton. Biasanya ia akan menemui nasib yang lebih buruk, atau sebaliknya mendapatkan dewa penyelamat, atau bertobat lalu pulang kampung. Tapi, dalam film ini Sita tidak menemukan ketiga-tiganya. Ia justru bertemu seorang lelaki yang terkunci rapat dalam sebuah kotak waktu. Media pertemuan mereka adalah foto. Tapi, foto kemudian bukan sekadar media pertemuan. Bagi Johan, foto adalah wahana untuk menautkan dirinya dengan hidup, sekaligus jendela rekonsiliasi serta pembebasan dari “dosa” di masa silam. Dulu, ia meninggalkan anak dan istrinya karena sadar bahwa ia tak mencintai perempuan itu. Tapi, pada saat yang sama, anak dan istrinya mati secara tragis terlindas kereta api. Sejak itu, ia berjanji akan menjadi orang yang baik. Dan, sebelum mati, ia juga ingin mendapatkan orang yang mau meneruskan profesinya sebagai juru foto keliling.
Ketika Sita mengetahui bahwa hidup Johan takkan lama lagi, ia berusaha membantu lelaki itu untuk mewujudkan keinginannya. Saat itu Sita baru saja kehilangan pekerjaan sebagai penyanyi karaoke dan berhasil melarikan diri dari si germo. Sita kemudian bekerja pada Johan. Hubungan dua manusia ini menjadi lebih intens dan pelik, kadang diwarnai peristiwa-peristiwa yang subtil. Foto dan kegiatan memotret keliling bukan lagi sebagai pekerjaan rutin bagi mereka berdua, tapi sudah menjadi wahana untuk menyingkap diri masing-masing.
Johan kemudian berani membuka kotak tua tempat menyimpan foto-foto dan benda-benda yang memeram tragedi di masa lalunya. Ia terguncang hebat oleh benda-benda itu, tapi justru di situ ia menemukan sublimasi: rasa sakit tidak harus dikubur dan dibuang dari ingatan, melainkan justru mesti dimasuki untuk kemudian dilewati. Rasa sakit mesti dikunyah, lalu dicecap hingga habis pedih perihnya. Itu juga yang dirasakan Sita: ia menjadi sadar bahwa hidup adalah proses keluar-masuk dari getir nasib yang satu ke getir nasib yang lain, dan masih banyak hal yang dapat dilakukan selain melarikan diri dari si germo atau membayangkan segala sesuatu di luar jangkauannya. Dan, setelah semuanya terasa lebih enteng, Sita kemudian mengantar Johan naik kereta api, lalu ke pelabuhan tempat Johan pertama kali menapakkan kaki di Jawa. Terakhir, Johan menyuruh Sita memotretnya. Pada saat itulah Johan dijemput maut. Itulah akhir yang subtil dari seorang lelaki yang hidup dengan sunyinya sendiri.

Kedalaman
Tokoh Johan dimainkan dengan cemerlang oleh aktor Singapura, Lim Kay Tong. Syukurlah, Shanty dapat memainkan sosok Sita dengan cemerlang pula. Kemampuan bahasa Indonesia Lim Kay Tong yang sangat terbatas membawa berkah lain: karakter Johan sebagai lelaki Tionghoa yang terisolasi jadi kian ekstrem meski kadang situasi alienasi yang direpresentasikan lewat artikulasi dialog yang terbata-bata itu tampak berlebihan. Tapi okelah. Itu semua toh tak mengurangi kedalaman hubungan antarkarakternya yang sangat unik dan unsur-unsur kontemplatif yang disusun lewat gambar-gambar yang sederhana dan efisien. Bahasa sinematografis yang klasik semacam itu sudah tampak pada Nan Achnas ketika menggarap film Pasir Berbisik (2000). Bedanya, pada Pasir Berbisik, sublimasinya tersusun lewat gambar yang lebih pelik untuk mengimbangi kerumitan dan kedalaman hubungan antarkarakter yang datar, tapi berujung pada guncangan dahsyat di tengah medan alam yang sangat kejam.
Satu-satunya kelemahan film ini adalah pada penataan musiknya. Di sini musik disusun berdasarkan pada nada dan bukannya pada bunyi. Rincian situasi kejiwaan para tokohnya yang sangat peka itu menuntut eksplorasi bunyi sebagai sari dari musik yang memantul dari jeritan lirih yang di sana-sini, bahkan terasa puitis. Tapi, akibat sapuan musik yang mengacu pada nada (yang terlalu ngepop), tekstur yang diciptakan oleh gambar dan gerak instingtif pemainnya, bangunan puitik itu justru terancam kehilangan daya getarnya.
Tapi, terlepas dari semua itu, film ini telah mengobati kerinduan saya terhadap tontonan yang mudah dicerna, tapi berisi dan memiliki kedalaman. Setelah seharian didera kerunyaman kota hingga tubuh lemas tak berdaya, kadang saya kehabisan energi buat menghadapi film-film yang kelewat rumit (dengan pretensi penemuan artistik ini-itu) sebagaimana juga saya yang kadang tidak sanggup menelan film-film populer tanpa isi itu. Syukurlah, sehabis menonton The Photograph, kerinduan saya terhadap kesederhanaan dan kedalaman dalam film Indonesia agak terobati.
Dimuat di Kompas, 15 Juli 2007.
Sunday, July 15th, 2007 at 3:19 pm and is filed under FILM. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Aku suka sekali dengan film The Photograph, menurutku ini film terbaik Indonesia tahun 2007 lalu.
Mas adi kapan ke jogja? Buku2 mas yg di jogja dulu sekarang dimana?