posts | comments
25Apr

Sekongkol

2 comments so far

Piala Eropa 2004 lalu telah melahirkan bintang-bintang baru, salah satu yang paling ngetop adalah Wayne Rooney. Dia disebut-sebut sebagai Paul “Gazza” Gascoine baru yang kehebatannya telah menenggelamkan sang pangeran, si superstar, David Beckham yang gagal mengeksekusi dua penalti. Sebagain pengamat mengatakan bahwa euforia publik Inggris terhadap Rooney bukan semata-mata didorong oleh ketakjuban mereka terhadap kejeniusan anak baru gede ini, melainkan lebih karena kerinduan mereka terhadap pahlawan sepakbola yang sebenar-benarnya.

Selama ini publik Inggris yang terkenal fanatik itu sudah bosan dengan kebintangan Beckham yang mereka anggap lebih pantas disebut sebagai pahlawan pesolek ketimbang seniman bola. Beckham memang mendapatkan popularitas bukan semata-mata lantaran kejeniusannya di lapangan melainkan karena sensualitasnya di depan kamera. Beckham sudah telanjur menjadi seorang selebritis ketimbang atlet. Seorang komentator bahkan mengatakan bahwa Becks bukan lagi wakil jiwa Inggris dalam sepakbola karena dalam setiap penampilannya, di depan kamera atau di lapangan, dia cenderung mewakili dirinya sendiri.

            Dan sebagaimana lazimnya seorang selebritis, dia selalu potensial memicu kontroversi, lengkap dengan gosip dan skandal di sana sini. Memang, gemerlapnya kehidupan selebritis tak secara langsung mempengaruhi karirnya di lapangan, tapi dalam sepakbola, siapapun mafhum bahwa ukuruan kebintangan seseorang sangat jelas: seberapa besar sumbangannya terhadap tim, apakah dapat memberi kemenangan atau tidak.

Setelah tigapuluh tahun lebih tak merasakan indahnya gelar internasional, kini publik Inggris tak cukup dihibur dengan popularitas. Mereka menuntut hasil yang kongkret, yang nyata, bukan retorika kosong. Publik Inggris tak dapat digirang-girangkan hatinya dengan mengatakan bahwa meski akhirnya gagal, toh penampilan mereka sangat gemilang dan itu menunjukkan bahwa Inggris adalah raksasa dan sama sekali bukan coro dalam sepakbola.

            Publik Inggris sudah hapal dengan permakluman seperti itu. Seorang hooligan Inggris yang dilarang berangkat ke Portugal berkata:”kami tidak menuntut terlalu banyak kepada Becks dan Sven Goran. Kami hanya mau Inggris pulang membawa trofi”. Ya, tuntutan mereka tak banyak, memang. Mereka sudah punya kompetisi klub yang hebat. Mereka punya Manchester United dan Arsenal. Dulu mereka punya Liverpool yang merajai Eropa. Mereka punya banyak pemain dengan bakat kelas satu.Yang tak dimiliki cuma trofi. Sederhana, bukan? Si hooligan lalu menambahkan, “tapi seandainya Inggris gagal, tak apa-apa. Kami tak akan membenci siapa-siapa. Tidak Beckham, Scholes, Owen, tak juga Sven Goran.”

            Terlepas dari tindakan ugal-ugalan para hooligan yang fanatik itu, publik sepakbola Inggris memang berbeda dengan negara lain, terutama Italia. Gianfranco Zola pernah berkata bahwa dia lebih nyaman merumput di Inggris ketimbang di Italia. Menurutnya, publik Inggris lebih toleran dengan kekalahan. Jika tim mereka kalah, mereka akan berkata “sudahlah, kawan, lupakan masa lalu. Kita coba lagi nanti.”

Saat bermain di Chelsea Zola merasa bahagia karena sikap supporter yang seperti itu justru membantu memulihkannya dari keterpurukan untuk kembali pada penampilan puncak. Hal itu berbeda dengan yang berlangsung di Italia di mana sebuah kesalahan yang dilakukan seorang pemain dapat berbuntut panjang karena terus diungkit-ungkit sehingga membawa trauma yang mendalam pula. Dan kali ini, ketika Italia benar-benar gagal melangkah ke perempat final, mereka mencari-cari kambing hitam dengan melempar isu bahwa mereka telah menjadi korban persekongkolan jahat yang dilakukan oleh Swedia dan Denmark.           

Sebelum mereka berangkat ke Portugal, Sir Bobby Robson, Arsitek Newcastle United, berkata bahwa jika ditinjau dari berbagai segi, Inggris memenuhi syarat untuk mendapatkan jatah trofi Piala Eropa. Mendapatkan jatah? Ya. Pasukan Sven Goran memang datang ke Portugal untuk merebut hak mereka yang sudah lama di-dhekemi sejarah itu. Tapi toh akhirnya mereka harus pulang dengan tangan hampa menyusul Spanyol, Jerman dan kemudian Perancis. Jika Beckham takkan lolos dari kritikan media, Rooney justru selamat karena cedera. Sang bintang baru itu tetap pulang sebagai pahlawan, bukan pesakitan. Sementara Vieri dan kawan-kawan pulang dengan selamat karena isu konspirasi itu.           

 

***

Ternyata sepakbola bukan perkara kalah dan menang dalam pertandingan, melainkan juga mengandung berbagai macam politik di luar lapangan. Dan seringkali segala ihwal silang sengkarut di luar lapangan itu, segala gosip, ingar bingar berita di media, skandal ini sensasi itu, adalah hal-hal yang akan membuat sebuah turmamen atau kompetisi menjadi lebih menarik. Tapi jika segala ihwal itu kemudian menjadi pokok utama, pada akhirnya justru dapat menghilangkan hakekat sepakbola itu sendiri.

Sepakbola memang tidak mungkin steril dari politik dan bisnis. Tapi dia tidak boleh diseret terlalu jauh ke luar lapangan. Dan Republik Ceko adalah salah satu tim yang dengan gemilang mengembalikan sepakbola ke tempatnya semula. Para pemain Ceko yang bertebaran di klub-klub elit Eropa itu adalah manusia-manusia sederhana dan sepi sensasi. Sang superstar Pavel Nedved yang dinobatkan sebagai Pemain Eropa tahun ini adalah lelaki yang santun, lugu dan bersahaja. Begitu pula dengan Baros, Rosicky dan Koller. Publik Ceko sangat menghormati mereka, tapi tidak secara berlebihan.

Mereka adalah bitang sepakbola dalam arti yang sebenar-benarnya. Melihat mereka bertanding kita memang sedang menonton permainan sepakbola, bukan politik ini muslihat itu. Nedved juga tidak suka melakukan politik di lapangan, apalagi di luar lapangan. Ketika jatuh diganjal lawan, dia cenderung tak berpura-pura sakit atau mendramatisir keadaan secara berlebihan. Menyaksikan Nedved dan tim Ceko bertanding seolah kita sedang disadarkan bahwa ingar-bingar politik, gemerlapnya publikasi dan runyamnya pemujaan tak lebih hanya rumbai-rumbai, bukan perkara pokok dalam sepakbola.

Ya, hidup manusia memang tak mungkin lepas dari silang sengketa politik. Tapi politik bukan segala-galanya. Hidup terlalu besar untuk dikorbankan demi sesuatu yang terlalu remeh seperti politik, ujar pujangga Perancis Victor Hugo. 

 

Categories: SEPAK BOLA

Friday, April 25th, 2008 at 4:25 pm and is filed under SEPAK BOLA. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Responses to “Sekongkol”

  1. Posted by tarom 24th May, 2008 at 7:47 am

    sepakat om. yang jelas MU kali ini menang meskipun aku gagal mencermati jadwal acaranya, alias ketinggalan…

  2. Posted by tarom 24th May, 2008 at 7:49 am

    Oh lupa nih, kategory dangdut kok gak dimasukno …

Leave a reply