posts | comments
13Jan

Monyet Itu Baik-baik Saja

1 comment so far

Setelah dikenal sebagai penulis cerita pendek, kini Djenar Maesa Ayu muncul dengan film Mereka Bilang, Saya Monyet!

Bukan sebuah kebetulan jika dalam film debutnya ini, ia bercerita perihal kehidupan perempuan penulis pula. Tentu, Djenar tidak berkisah mengenai liku-liku karier kepenulisan, melainkan sejenis paradoks yang dialami oleh seorang perempuan muda kelas menengah kota Jakarta yang mengidap trauma dan disorientasi akut.

Dan sebagaimana lazimnya kisah semacam itu pagi-pagi kita bertemu dengan kisah gelap tokoh utamanya (Adjeng) di masa kanak-kanak akibat perceraian orangtuanya. Ia mengalami “kekerasan” dan pelecehan seksual. Ia terisolasi dari lingkungannya, lalu tumbuh menjadi perempuan yang labil, ugal-ugalan dan permisif. Ia menjadi simpanan seorang bos, suka dugem, dan tinggal di apartemen. Ia juga berpacaran dengan seorang penulis senior yang sudah beristri. Yang unik dari si tokoh ini adalah, meski suka semau gue, ia menjadi anak manis di depan ibunya. Ia takluk oleh bayang-bayang otoritas mama. Kisahnya berkisar pada proses pengendapan trauma dan “pemberontakan” terhadap kungkungan otoritas dipadu dengan kegelisahan kreatif tanpa henti dari seorang perempuan yang hendak merefleksikan pengalaman tersebut ke dalam tulisan-tulisannya.

Kita juga segera tahu bahwa menulis bagi Adjeng merupakan proses terapi sekaligus wahana untuk menemukan rekonsiliasi dari berbagai antagonisme yang tak terselesaikan dalam hidupnya. Salah satu cerpennya yang berjudul Lintah rupanya telah menjadi sejenis pintu sublimasi, yakni suatu upaya untuk melampaui pengalaman gelap itu dengan merekonstruksikannya secara berulang-ulang. Menulis adalah suatu rekonstruksi dari pengalaman traumatik sehingga dengan begitu rasa sakit akibat pengalaman itu menjadi menipis sekaligus sebagai alat untuk menghantam balik otoritas yang mengungkungnya.

Sementara “pemberontakan” terhadap otoritas diperlihatkan melalui konflik “benci tapi rindu” antara ibu dan anak. Hubungan hierarki ibu-anak ini mengingatkan kita pada film Pasir Berbisik (Nan T Achnas 2000) dan Eliana, Eliana (Riri Riza, 2003). Pada Pasir Berbisik si anak (Daya) ingin membebaskan diri dari otoritas si Ibu dengan menunggu pertolongan si ayah yang telah lama hilang, tetapi ketika si ayah datang justru membawa petaka dengan menjual si anak kepada lelaki juragan. Si ibu kemudian menuntaskan petaka itu dengan membunuh si ayah, lalu membiarkan si anak pergi untuk menemukan dunia luas. Sementara pada Eliana, Eliana, si ibu (Bunda) dengan sukarela melepas si anak (Eliana) agar dapat menemukan eksistensinya di belantara kota yang keras dan berbahaya itu.

Pada Mereka Bilang, Saya Monyet!, si anak rupanya tidak pergi ke mana-mana. Dan meski tunduk pada hegemoni sang ibu, ia memberontak lewat cara lain: dengan merayakan tubuh. (Hal itu banyak muncul dalam prosa yang ditulis oleh perempuan akhir-akhir ini, yakni sejenis pemberontakan yang tidak diperlebar ke tingkat ideologis atau gugatan politik, melainkan justru dengan merayakan tubuh dan seks secara eksplisit). Dan sekali lagi, meski berani mengumbar kebebasan di dunia luar, ketika berada di ruang privat saat berhadapan dengan otoritas mama, si pemberontak menjadi anak manis dan jinak. Adjeng menjadi pasif, bahkan menikmati kepasifan itu. Si Monyet yang ugal-ugalan itu pada akhirnya tampak baik-baik saja.

Itulah paradoks dari hasrat pemberontakan yang terus mengendap bersama trauma laten yang dialami oleh seorang perempuan yang kebetulan berprofesi sebagai penulis. Djenar menyusun film ini dengan meletakkan bobot kehadirannya pada cerita dan kedalaman karakter. Alurnya jelas dan sederhana. Sebuah film yang bobot kehadirannya bertumpu pada cerita dan karakter memang menuntut kekuatan akting para pemainnya dan elaborasi berbagai persoalan yang muncul dunia di sekitar tokoh cerita tersebut. Sayangnya, Titi Sjuman yang memerankan tokoh Adjeng belum sepenuhnya dapat memasuki kompleksitas karakter tersebut dan tidak menyentuh titik-titik rawan seorang penulis yang resah menghadapi lingkungan maupun dirinya sendiri.

Tetapi, sebagai sutradara sekaligus penulis skenarionya, ternyata Djenar dapat menata elemen-elemen penceritaan yang pelik itu dengan rapi dan terukur. Bahkan, dia berani melangkah lebih jauh dengan menciptakan beberapa metafora dengan aroma surealistik di sana-sini dalam alur ulang-alik yang cukup efektif sehingga penonton dapat mengikuti alur cerita dengan mudah. Itulah kekuatan film ini.

Kelemahannya terletak pada bahasa sinematografisnya yang belum sepenuhnya mencerminkan intensitas perkembangan psikologis yang pelik dari si tokoh cerita. Sekalipun bobot kehadiran film ini terletak pada kedalaman cerita dan kekuatan karakter sehingga tidak memerlukan demonstrasi gambar yang kelewat canggih, tetapi bagaimanapun bahasa sinematografis yang disusun mesti dapat mempertajam bobot kehadiran yang dipilih tersebut. Bahasa sinematografis dalam film ini kelewat biasa, bahkan di sana-sini tampak seperti sinetron sehingga beberapa metafora yang sangat unik menjadi kehilangan daya getarnya.

Tak apa. Toh kelemahan itu ditebus dengan kejernihan dalam bercerita. Keterampilan sinematografis dapat diperbaiki di kemudian hari. Yang penting, hal-hal pokok film dengan bobot kehadiran pada cerita dan karakter terungkap jelas. Bahkan, seorang perempuan penulis yang duduk di sebelah saya mengatakan bahwa film ini “sangat feminis”. Entahlah. Yang jelas ini karya debut yang bagus dari sutradara masa depan kita.

Dimuat di Kompas, 13 Januari 2008

Categories: FILM

Sunday, January 13th, 2008 at 3:22 pm and is filed under FILM. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

One Response to “Monyet Itu Baik-baik Saja”

  1. Posted by Djenar Maesa Ayu » Blog Archive » Monyet Itu Baik-baik Saja 16th April, 2008 at 4:55 pm

    [...] baca di adiwicaksono.com [...]

Leave a reply