Laut
8 comments so farI
Ketika berjalan menyusur dan terus menyusuri,
kita tahu bintang yang redup. Kemudian mayat-mayat:
kematian ada di mana-mana, pikir kita. Dan lebih redup
dari tenggelamnya matahari. Kadang kita dengar sendiri
suaranya perlahan, bagai hewan di rumah jagal.
Tapi kita ingat ayah kita berkata suatu hari,
“Aku mencintai laut. Tapi bukan karenanya
aku meninggalkan kalian. Aku ingin bersama-sama
nanti mati. Aku ingin kalian mengerti laut
yang mengawinkan musim demi musim”.
Lalu kita mengerti laut. Kita jatuh cinta pada laut
Dan ayah kita, laki-laki tukang jagal itu, akan berkata,
“usia kalian nanti hanya separoh, nak. Selamat tinggal”.
Tiap sore kita ingin datang ke laut.
Menyaksikan kapal-kapal berangkat
menembus malam dengan layar
berguncang-guncang. Suaranya seperti hujan.
Mereka berangkat sebelum laut
menutupkan pintu-pintunya.
Jauh di ujung pantai mata mereka basah.
Kita tak tahu. Hanya pada usia kita ke dua puluh dua
mereka membawa kita berlayar. Bila langit redup
kita dapati pelancong-pelancong itu basah matanya.
Tapi mereka berkata, besok kita akan sampai.
Dan kita tertawa, kita pikir sebuah lelucon.
Ketika matahari tenggelam perempuan itu
mengajak kita minum. Mata kita yang basah
tak membuatnya paham, terus saja bercerita.
“Aku kawin ketika ibuku mati.
Aku dibelinya tanpa syarat.
Mungkin aku tak mencintai laki-laki,
tak mencintai ibuku”.
Suatu hari kita dengar perempuan itu melahirkan.
Tak ada ucapan, hanya kita tahu anaknya perempuan
yang kemudian kawin dengan laki-laki Pagu
dan melahirkan beberapa anak perempuan
yang tak mampu mengawinkan.
Adakah yang kembali ke laut?
II
Kita terus melangkah dan langkah kita seperti ombak.
Tak tertahan. Sedang pohon-pohon menggigil.
Pohon-pohon berduri dengan daunnya yang hitam.
Suaranya mengingatkan kita pada seorang nelayan
yang sopan. Di malam-malam di antara jala-jalanya
selalu berkata:
“Pada penguburan istriku yang ke sekian,
juga ada bintang jatuh. Kami tidak ke laut
karena belum saatnya. Itulah cara kami
menghormati arwahnya yang pergi,
mungkin ke tempat yang mengerikan”.
Kita berpikir bagaimana caranya ia melepaskan
diri dari Maut. Sebab suatu kali kita lihat wajahnya
seperti peri. Kita berjabat tangan
lalu bersama-sama ke laut. Sebelum berpisah ia berkata:
“Baiklah kutinggalkan perahu dan laut.
Kutinggalkan ombaknya di pasir
dan karang dengan nyanyiannya”.
Hari berikutnya kita saksikan pantai masih seperti semula.
Angin tak berubah peluit melengking dari kapal-kapal.
Tapi kita tak bisa ke laut karena mesti
mengikuti upacara pemakamannya.
Pada pelayaran penghabisan
mereka memaksa kita mabuk habis-habisan.
Mereka bercerita dengan dipenuhi minuman,
kita akan menemui ajal di tempat yang sangat buruk.
Itu karena kita segera ke darat, ke kota.
Laut adalah isyarat yang tak berarti mengerti
karena diri kita masing-masing.
1990-1993.
Friday, April 25th, 2008 at 4:44 pm and is filed under PUISI. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Aku suka laut.
kok puisine meng siji tok?
btw file naskah novelmu masih ada di komputerku lho. Hikayat mas Tjokro. kok ora diterbitke?
halo mas adi, salam kenal ya.
saya suka puisi2 anda, dulu beberapa kali saya baca di kalam, tapi sepertinya anda agak “kikir” membagikan puisi2 baru anda. mudah2an di blog ini saya bisa membaca puisi2 anda lebih banyak lagi.
salam
mas adi
piye kabare?……
entah ya…
menyaksikan laut seperti menyelami ketidak berdaya manusia. kabur dan penuh ombak
Bung Ook: anda benar, daku bukan penulis puisi yang rajin. Akibat kemalasan yang bersimaharajalela itu daku jadi sulit bikin puisi lagi. Tapi daku lagi berusaha belajar menulis puisi lagi, mudah-mudahan bisa… Dan setiap kali membuka blog anda, daku jadi puas membaca puisi-puisi anda di situ…
Mas Adi bisa aja, yang betul sajak2 andalah yang bikin saya suka mabok kepayang, contohnya “Kota Lama” dan “Laut” ini
Mak Nyak: wah, lama sekali daku gak mampir di internet nih. File Mas Tjokro tolong disimpan ya…Daku masih berusaha meneruskan novel itu, siapa tahu nanti bisa diterbitkan.
Mas Ook: ya, kita berada di jalan yang sama, berusaha mabuk dengan puisi, tapi kadang kita mabuk berat kadang setengah mabuk yang menghasilkan pusing kepala doang hehehe…