Dua Bali
4 comments so farSekitar tahun 1990-an secara sambil lalu beberapa orang sering bertanya, kenapa karya-karya seniman Bali (yang saat itu sedang dan baru saja selesai belajar di ISI Jogja), cenderung bercorak nonrepresentasional? Secara sambil lalu pula pertanyaan itu biasanya berlanjut, kenapa seni representasional itu dengan serampangan disamakan dengan apa yang disebut sebagai seni lukis bercorak abstrak ekspresionistik? Dan dalam cakupan itu, kenapa dari sekian banyak pelukis Bali, kita tak menemukan perbedaan yang berarti dalam karya-karya mereka?
Dari pertanyaan-pertanyaan yang sekilas tampak seperti main-main itu kemudian muncul beberapa diskusi mengenai apa itu abstrak-ekspresionisme. Tapi sayangnya perdebatan itu tidak menyentuh substansi yang paling penting, yakni apa dan bagaimana sejarah kemunculan dan perkembangan abstrak-ekspresionisme yang berlangsung di Eropa dan Amerika serta bagaimana hubungannya dengan karya-karya para seniman Bali yang memiliki akar dan watak kebudayaan serta referensi visual yang berbeda dengan seniman Eropa dan Amerika. Bagaimana pengaruh paradigma seni abstrak-ekspresionisme Barat itu merasuk ke dalam karya-karya seniman Bali. Apakah ada perbedaan mendasar pada cara pandang kaum abstrak-ekspresionis Barat dengan seniman Bali?
Pertanyaan-pertanyaan mendasar itu justru diabaikan dan perdebatan kemudian melenceng pada soal keseragaman karya para seniman Bali yang dianggap sebagai gejala negatif. Dan pada saat itu sebagian besar seniman Bali – di antaranya masih duduk di bangku kuliah – menjadi kehilangan rasa percaya diri, atau sekurang-kurangnya merasa tersudut oleh gejala tersebut. Pada tembok salah satu gedung di kampus ISI di Gampingan Jogjakarta bahkan muncul coretan-coretan yang bernada melecehkan: bahwa karya-karya seniman Bali tak ubahnya hanya bentangan kanvas panjang yang dilukis oleh sekian banyak manusia dalam tarikan nafas yang sama. Kita tak dapat menemukan karakter individual dari masing-masing seniman dalam bentangan panjang itu.
Pada saat itu saya sedang belajar di ISI, dan ada beberapa teman mahasiswa satu kelas saya di jurusan seni lukis yang berasal dari Bali. Saya harus mengakui bahwa para mahasiswa dari Bali itu rata-rata memiliki skill atau keterampilan teknis yang lebih baik dibanding mahasiswa lain. Kemampuan mereka dalam mata pelajaran menggambar bentuk dan melukis secara realistik pun cukup bagus. Tapi setelah mereka memasuki tahun-tahun terakhir masa kuliahnya, mereka cenderung melukis dengan corak abstrak atau abstrak ekspresionistik. Maka agak masuk akal juga tuduhan yang mengatakan bahwa mereka “terseret arus” aliran itu. Dan celakanya orang yang tidak mempelajari sejarah seni abstrak dan asbtrak-ekspresionisme memang akan mengalami kesulitan untuk menemukan perbedaan karya-karya pada lanskap besar aliran tersebut.
Hingga pertengahan dekade tahun 1990-an gejala tersebut terus berlangsung. Para seniman yang terlibat pada pameran “Reinventing Bali” ini sebagian tumbuh dan berkembang dalam situasi tersebut. Sebagian di antara mereka belajar di ISI Jogjakarya pada tahun-tahun itu dan sebagian yang lain pada tahun 2000-an dimana perdebatan mengenai seni abstrak ekspresionisme sudah mereda dengan alasan yang tidak begitu jelas. Dan harus diakui, salah satu seniman Bali yang sangat menonjol karena dianggap berhasil keluar dari arus abstrak ekspresionisme itu adalah Nyoman Masriadi. Para seniman lain yang dapat digolongkan berada dalam generasi yang lebih dulu dari Masriadi di antaranya adalah Gusti Alit Cakra, Nyoman Sukari, Made Sukadana, Putu Sutawijaya, Made Mahendra Mangku, Made Sumadiyasa, Toris Mahendra dan Pande Ktut Taman. Kini kita menyaksikan generasi yang lebih muda dari generasi ini banyak yang tidak berkarya dalam corak abstrak-ekspresionistik. Karya-karya seniman Bali yang muncul pada tahun 2000-an jauh lebih beragam.
Kenapa bisa demikian? Apa yang menyebabkan perbedaan itu? Apakah sebagian mereka meninggalkan corak abstrak-ekspresionisme akibat kritikan yang sangat gencar gejala keseragaman itu ataukah ada sebab lain?
Saya ingin melihat perubahan itu dalam perspektif yang lebih luas, yaitu faktor-faktor budaya visual yang melatar belakangi pertumbuhan seniman Bali itu sendiri. Bagaimana pun kecenderungan mereka untuk lebih mudah menerima paradigma abstrak-ekspresionisme itu bukannya tanpa dasar sama sekali. Tapi sebelum melacak dasar-dasar tersebut kita perlu mengakui bahwa dalam dunia seni rupa atau seni visual secara umum sudah sangat lazim dikenal suatu pembedaan antara jenis seni rupa representasional dengan seni rupa non-representasional. Meski pembedaan tersebut sering dianggap kuno, namun terkadang masih berguna, terutama ketika berbicara perihal dorongan-dorongan atau tendensi-tendensi yang melandasi proses lahirnya dua jenis seni rupa tersebut.
Seni rupa representasional biasanya dianggap muncul dari dorongan-dorongan artistik visual yang hendak menampilkan suatu dunia tertentu sebagaimana dunia itu menampakkan diri secara fenomenologis. Cara pandang ini meyakini bahwa karya seni pada dasarnya adalah sebuah dunia yang tercipta dari upaya mengolah kemungkinan-kemungkinan melalui sistem tanda yang dikenali (sebagai bahasa) untuk kemudian menampilkan kemungkinan-kemungkinan tersebut dalam bentuk lain dan menautkannya kembali dengan berbagai acuan yang melingkupinya, sehingga dalam beberapa hal ia dapat dikatakan sebagai proses transformasi dari dunia nyata menjadi dunia rekaan.
Seni rupa representasional adalah suatu ciptaan visual yang lahir dari segala kemungkinan yang berkaitan dengan dunia yang nampak, yakni dunia yang berada di luar diri si seniman. Ia adalah penampilan dari dunia eksterior sehingga pembacaan atasnya tak dapat dilepaskan dari bagaimana proses terbentuknya kenyataan yang ditampilkan tersebut. Meski suatu karya lukisan representasional dikatakan sebagai bagian paling personal dan merupakan ekspresi subyektif si seniman, tapi pada akhirnya ia tak sepenuhnya dapat melepaskan diri dari dunia eksterior tersebut. Seni rupa semacam ini tidak sepenuhnya steril dari konstruksi kenyataan yang diangkat.
Dalam kebudayaan di Indonesia paradigma representasional semacam itu tidak pernah ada dalam tradisi visualnya. Kita tidak pernah mengenal seni visual naturalistic dan seni rupa realistic yang benar-benar. Pada seni visual dari wayang kulit (di Jawa dan Bali) misalnya atau seni kerajinan tradisional yang lain tidak ditemukan kaidah-kaidah seni rupa representasional. Pada seni lukis tradisional Bali kita tidak pernah menemukan menemukan perspektif, volume dan pola pencahayaan seperti dalam teori optika modern. Hal itu juga terjadi pada berbagai seni patung dan seni lukis tradisional di berbagai wilayah di Indonesia. Begitu pula dalam seni teater, tari dan musik. dalam sejarah teater modern Indonesia kita mengenal teater Putu Wijaya yang tidak memiliki struktur dramaturgi yang ketat sebagaimana yang terdapat pada teater realisme di Barat tapi justru mengandalkan kilasan-kilasan visual yang acak, spontan dan tak terduga. Bahkan dapat dikatakan bahwa teater Putu Wijaya tidak memiliki struktur. Di situ teater tidak bertumpu pada cerita dan tokoh-tokoh manusia tetapi lebih dekat pada permainan ruang dan citraan-visual yang tidak memiliki arah tunggal. Kekuatannya terletak pada spontanitas dan improvisasi di atas panggung.
Artinya, secara kultural para pelukis Bali pada dasarnya memang cenderung lebih dekat pada berbagai acuan visual yang bersifat nonrepresentasional ketimbang seni representasional. Tapi perlu segera ditambahkan di sini bahwa pengalaman nonrepresentasional pada mereka tidak persis sama dengan pengalaman seniman abstrak atau abstrak-ekspresionisme Eropa dan Amerika. Kaum abstrak dan abstrak-ekspresionis Barat cenderung bertolak dari daya-daya interior yang mengandalkan spontanitas murni dan arus ketidaksadaran indivisual. Sementara para seniman nonrepresentasional Bali lebih banyak mengolah “abstraksi”.
Para seniman abstrak di Barat sepenuhnya bertolak individualisme sebagai pusat penciptaan: suatu tendensi proses kreatif yang antroposentris. Mereka adalah anak kandung Pencerahan dan proyek modernitas yang tujuan akhirnya menemukan manusia sebagai individu otonom. Sedangkan dalam kebudayaan Bali, manusia atau antropos itu justru tidak otonom tetapi hanya bagian dari alam. Manusia bukan aktor utama atau protagonis dalam kehidupan. Manusia hanya pemain figuran atau elemen kecil dari gerak besar dalam cakupan alam semesta. Dalam berbagai bentuk upacara keagamaan di Bali, kita menemukan figur-figur simbolik utama yang bukan manusia tetapi sosok-sosok mitologis yang diciptakan berdasarkan daya-daya kosmologis dan acuan moral yang mengatur siklus kehidupan sebagai bagian alam secara langsung.
Dalam kebudayaan Bali kita menemukan berbagai upacara yang mirip teater besar dan dilakukan hampir setiap hari dimana manusia seperti lenyap di balik panggung di bawah bayang-bayang tebaran simbol mitologis, dalam haribaan roh-roh yang sosoknya tidak pernah nyata dan tidak digambarkan secara realistik tapi kehadirannya begitu dekat. Hilangnya manusia dari panggung itu membawa implikasi yang lain, yaitu pudarnya struktur dunia dalam bentuknya yang fenomenologis. Alam, tumbuhan, binatang, sawah, ladang, kota dan benda-benda, tidak dilihat dalam perspektif empirik tapi selalu dikaitkan dengan segala hal di balik yang fisik. Orang Bali lebih mudah melihat dunia secara mitologis ketimbang realitas yang bertumpu pada pendasaran material.
Dengan kata lain, pada mulanya orang Bali cenderung bukan makhluk antroposentris. Di situ individualitas lenyap di balik upacara-upacara sakral dalam kebesaran alam. Akibatnya seni nonrepresentasional yang diciptakan oleh seniman Bali tidak mengarah pada seni asbrak yang mengandalkan daya-daya interior murni yang bertolak dari individualitas sebagai pusat dunia dan penciptaan. Seni nonrepresentasional mereka tidak perpusat pada otonomi manusia tetapi cenderung sebagai abstraksi dari daya-daya eksterior yang dilihat dalam cakupan alam mitologis itu. Dan kadang kita agak sukar membedakan antara kenyataan mitologis yang tergambar dalam upacara-upacara dengan agama sebagai substansi yang mendasari upacara-upacara itu. Kadang, agama adalah upacara itu sendiri, begitu pula sebaliknya. Antara bentuk dan substansi kadang tidak ada batas yang jelas. Antara tubuh dan gerak, ruang dan benda-benda, spirit dan alam menjadi satu.
Maka tidak mengherankan jika manusia Bali lebih mengenal irama dan gerak ruang ketimbang wujud geometrisnya. Seniman Bali lebih bergairah untuk melukis spirit dan gerak yang mengalir dari tarian ketimbang tubuh penari. Mereka lebih suka mencari daya-daya ekspresif yang mengarah pada trance saat melukis ketimbang membuat perhitungan analitik dan realistik dalam menampilkan dunia dan kehidupan. Di situ spontanitas menjadi lebih hidup. Sabetan-sabetan kuas disamakan dengan gerak dari ruang dan tubuh yang tak terbatas. Saking asyiknya dengan hal itu mereka kadang lupa mengambil jarak dari dunia yang dilukisnya.
Yang hendak dikatakan dari penjelasan di atas adalah bahwa pada dasarnya seniman Bali memang memiliki pengalaman budaya yang mendekatkan mereka kepada berbagai bentuk seni nonrepresentasional. Maka tidak terlalu mengherankan jika mereka memiliki egergi yang luar biasa ketika menggarap lukisan nonrepresentasional yang menampilkan abstraksi alam dan bentuk-bentuk mitologis. Sebagian seniman melukis adegan-adegan dalam drama tradisional, cerita perwayangan dan berbagai abstraksi makhluk hidup, tetumbuhan atau benda-benda. Tapi dunia eksterior itu tidak ditangkap sebagai ojbek dalam jarak tertentu dengan struktur fenomenologisnya tetapi melakukan asbtaksi atasnya. Sementara sebagian seniman yang bekerja dalam paradigma abstrak-ekspresionistik menghadapi kanvas seperti para penari yang menumpahkan geraknya di panggung. Mereka tidak sedang merepresentasikan ruang dan tubuh tapi menciptakan gerak dan irama dari ruang dan tubuh.
Tapi ketika mereka terlibat pada berbagai event, sebagian dari seniman itu kemudian berkenalan dengan berbagai kecenderungan seni rupa yang berbeda dengan pengalaman cultural di tanah asalnya. Ketika belajar di ISI mereka sudah mulai dipaksa untuk mengambil jarak dari pengalaman nonrepresentasional dan sesudah tahun 2000-an referensi dan acuan seni rupa yang mereka temui di berbagai tempat juga kian luas. Pasar yang terus berkembang dengan selera yang berubah-ubah sehingga memaksa mereka untuk mencoba berbagai pendekatan. Pada saat yang sama dalam masyarakat Bali juga terjadi guncangan hebat akibat bom dan terorisme. Guncangan dahsyat itu menimbulkan disorientasi dan krisis sosial yang sangat serius dan memaksa mereka untuk melakukan pemahaman ulang terhadap dunia, kehidupan dan dirinya sendiri.
***
Itulah beberapa hal yang saya duga membawa perubahan pada cara pandang sebagian besar seniman Bali. Perubahan itu tampak lebih jelas pada seniman dari generasi termuda. Sebagian besar dari mereka mulai berani mencoba paradigma seni semi-representasional, bahkan juga muncul karya yang realistik dengan teknik yang sangat prima. Keberagaman mulai benar-benar tampak. Dikatakan semi-represesntasional karena secara umum mereka tidak dapat sepenuhnya lepas dari naluri nonrepresentasional. Naluri tersebut menyebabkan karya-karya mereka tidak terpaku secara kokoh pada paradigma representasional yang ketat. Karya-karya mereka berada di garis tegangan antara dua paradigma tersebut. Dalam garis tegangan itu ternyata karya-karya mereka dapat berkembang dengan cepat. Seniman seperti Nyoman Sukari yang sebelumnya menggarap tema-tema mitologis kini mulai berani mengolah berbagai tema tentang kehidupan sehari-hari.
Di wilayah antara itu mereka dapat bergerak ke mana saja. Mereka juga telah menemukan semacam “pembebasan” dari tradisi sekaligus menemukan ruang baru untuk menemukan individualitas. Mereka tersadar bahwa di tengah haribaan alam dan dunia mitologis itu terdapat ruang untuk menemukan manusia empirik. Mereka menemukan manusia dan dunia yang dapat ditangkap dengan mata telanjang. Dan karya-karya semi-representasional itu ternyata mendapat sambutan yang bagus dari pasar. Antusiasme pasar itu memperkuat momentum perubahan yang terjadi pada diri mereka.
Maka, tak mengherankan jika sebagian besar seniman Bali yang tumbuh tahun 2000-an lebih berani mencoba bermain dengan paradigma yang diserap dari luar budayanya karena ternyata pasar jauh lebih akomodatif ketimbang pada tahun 1990-an. Mereka juga lebih berani untuk mencampur adukkan antara yang mitologis dengan yang material, yang sakral dengan yang profan. Mereka menemukan wilayah garapan yang lebih luas.
Yang unik adalah apa yang dilakukan oleh Nyoman Masriadi tahun 1990-an. Bagi saya dia adalah seniman yang istimewa karena keluar dari seni abstrak-ekspresionisme semata-mata didorong oleh rasa ketidak puasan terhadap seni tersebut. Masriadi telah berhasil mengambil jarak dari dunia mitogis yang merasuki jiwa dan tubuhnya untuk kemudian menemukan dirinya sebagai individu. Dia melakukan hal itu dengan mengolah acuan visual dari budaya massa ditambah kritik, parodi dan ironi kapitalisme.
Jadi, pada titik ini, penemuan kembali Bali bagi mereka adalah berarti proses untuk menemukan individu, menemukan manusia sebagai makhluk profan. Manusia yang memiliki sisi-sisi otonom pada dirinya. Dan proses pembebasan itu tak akan pernah berakhir. Para seniman itu akan terus keluar masuk antara dunia mitologis dan dunia material untuk mengolah modernitas yang kadang menampakkan wajahnya yang buruk dan justru dapat mengancam keberadaan manusia sebagai individu yang otonom itu sendiri.
Tentu, kita tidak tahu bagaimana perkembangannya nanti. Yang menarik, pada beberapa seniman Bali dari generasi termuda ini tampak bahwa wilayah antara itu tidak dipandang sebagai beban melainkan semacam berkah. Mereka juga tidak lagi terpukau oleh Bali sebagai dunia mitologis yang sakral. Dengan kata lain, mereka mulai berani melakukan desakralisasi terhadap Bali sebagai eksotisme dunia mitologis. Sementara seniman yang masih berkarya dengan paradigma nonrepresentasional juga terus menemukan kenikmatan untuk tenggelam dalam ekspresi kultural tanah asalnya.
Itulah dua wajah Bali: yang sakral dan yang profan. Tentu, sedikit banyak itu merupakan berkah dari meluasnya acuan seni rupa Indonesia dalam dua dekade terakhir. Juga berkah dari pasar yang kian agresif menelan segala macam corak karya. Tapi boleh jadi itu berkah lain dari disorientasi dahsyat akibat guncangan bom yang nyaris menghancurkan Bali itu.
***
Wicaksono Adi, kritikus seni rupa, tinggal di Jakarta.
Thursday, April 24th, 2008 at 7:39 pm and is filed under SENI RUPA. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
halo pak adi, saya selalu baca tulisan2 bapak. saya memerlukan debat bapak ama i made sukadana yang dimuat di kompas dulu.kalau masih ada filenya, saya dikasih ya. terimakasih.
sarasajaib: wah, repotnya saya sendiri tidak menyimpan file debat itu…kayaknya ketelingsut waktu saya berpindah-pindah tempat…
mas adi, hasan ini. saya pernah membaca bagian tulisan ini dalam katalog pamaeran Sanggar Dewata Indonesia di Yogyakarta. Ini tulisan yang sangat mengilhami. Posting tulisan seni rupa sampeyan yang lain.
Salam dari Yogya.Hasan
He he aku br tahu kalo mas adi pernah di ISI. Kirain dulu cm becanda.abis ga kaya anak isi yang laen…di Jakarta suka pindah-pindah ya, gimana tu mindahin buku yang seabrek-abrek?